Kesan yang Tertinggal dari “Raksasa”

Satu hal yang tertunda dari sisa tahun 2016 adalah menceritakan betapa menyenangkannya hadir di tengah-tengah pementasan drama musikal “Raksasa”. Kagum dengan proses menjahit cerita, menanam pesan, kerja produksi, balutan musik serta bagaimana anak-anak begitu menikmati perannya di atas panggung.

Kala itu Sazki, teman saya yang menjadi salah seorang panitia drama musikal Raksasa, meminta saya untuk datang ke project terbarunya, menggarap drama musikal yang diprakarsai oleh Jendela Ide dan KPK. Saya belum menyangka kalau drama ini dibuat untuk anak-anak dan melibatkan banyak sekali anak-anak. Kebetulan saya sedang main ke Bandung, saya menyempatkan diri melihat proses produksi, anak-anak latihan dan tim orkestra latihan. Saat menonton, saya tidak menyangka hasil ramuan Jendela Ide bisa begitu apiknya menyeret saya ke sebuah negeri imajinasi yang menyematkan nilai-nilai integritas.

img_1792

Ini bukan perkara mudah mengingat sasaran yang dituju adalah anak-anak. Berkomunikasi tentang nilai pada anak-anak berarti menguji pemilik ide untuk terjun menjadi anak-anak, memelihara pikiran liar dan bermain-main dalam cerita sebebas anak-anak. Untungnya para penggarap drama musikal “Raksasa” cukup sukses menghidupkan jiwa anak-anak dalam diri mereka. 90 persen anak-anak yang hadir di waktu saya menonton, terlihat hanyut dan menikmati cerita. Tokoh-tokoh unik yang dibuat pasti akan berbekas saat mereka pulang, lagunya yang mudah disenandungkan, tampaknya bakal jadi irama mereka selama beberapa hari.

img_1518

Kesuksesan sebuah pertunjukan bisa dihitung seberapa banyak wajah bahagia selepas menonton. Dan nyatanya yang habis menonton melontarkan komentar positif.

Senangnya telah mengikuti perjalanan mereka dari awal. Tim produksi yang sangat giat melakukan workshop ke sekolah-sekolah guna menyebarkan langsung nilai-nilai integritas melalui metode workshop gerak dan workshop bunyi mencuri perhatian anak-anak. Tidak heran saat pementasan mereka begitu terlatih untuk menyihir anak-anak, menonton hingga habis tanpa rasa bosan.

Catatan saya hanya pada anak-anak yang bermain tampak masih malu-malu untuk mengambil perannya, mungkin karena mereka baru berlatih peran saat pementasan ini diadakan, mereka bukan anak yang belajar seni peran secara khusus. Namun tidak menutup kemungkinan setelah ini, Jendela Seni membuka kelas seni peran untuk anak-anak. Mereka butuh ruang ekspresi untuk merealisasikan mimpi-mimpinya. Masih terbayang jelas wajah anak-anak yang bahagia saat melihat makhluk unik satu persatu keluar. Saya yakin mereka bahagia karena bentuk-bentuk seperti itulah yang lahir dari imajinasi anak-anak.

Sepulang dari menonton “Raksasa” saya menjadi yakin bahwa banyak cara untuk tetap optimis pada negeri ini, menanamkan nilai-nilai pun bisa menggunakan cara yang menyenangkan sesuai dengan sasarannya.

Janganlah kolaborasi “Raksasa” antara KPK dan Jendela Ide selesai sampai di sini. Anak-anak sangat butuh asupan nutrisi di hidupnya. Mungkin mereka jengah dengan kegiatan rutinitas dan ingin mencari hal lain yang menyenangkan hati.

 

Great job untuk para “tim Raksasa”dan  terimakasih sudah menyempatkan membuat drama musikal indah ini.

IMG_4984.JPG

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s