Berjalan Lebih Jauh Bersama Banda Neira

#TerimakasihBandaNeira

img_2579Dear Ananda dan Rara,

Saat itu tahun 2012, 5 tahun yang lalu, di waktu yang sama kalian membuat Banda Neira, kami pun berjalan lebih jauh ke Timur dengan merekam jejak melalui menujutimur.com.

Tanpa sadar lagu-lagu kalian menjadi pengubah kehidupan kami kelak. Setiap hari, lagu-lagu dari album pertama menjadi musik latar perjalanan kami saat menyelam lebih dalam, memasuki hutan, bertemu dengan orang-orang baru yang bercerita banyak tentang hidup yang sesungguhnya. Kami mengarungi semuanya sembari mengupas lirik kalian, bersenandung di tiap waktu. Kami tidak sekadar menikmati nada, lebih dari itu, kami ingin menjadi pribadi yang bermanfaat seperti kalian yang memberi semangat di saat-saat tersulit kami dalam perjalanan berkeliling timur Indonesia waktu itu.

Hingga satu saat Menuju Timur benar-benar tiba di Banda Neira, bertemu dengan sebuah tempat yang kalian jadikan nama pengikat cerita dari lagu-lagu yang selalu mencengkerami sanubari kami. Tidak ada hal yang pertama kami lakukan selain merekam keadaan di Banda Neira sambil mendengarkan seluruh lagu kalian lalu mengunggah di media sosial sambil berkhayal andai kalian membuat konser intim di sini. Banda Neira di Banda Neira.

Sayang khayalan kami mesti pupus setelah tahu kalian moksa. Namun karya kalian masih hidup, memedar menjadi cahaya yang sinarnya masih bisa terdengar kapan pun saat kami mau, melalui lagu.

Dear Ananda dan Rara,

Kami sebelumnya enggan bersaksi kalau mendengar lagu-lagu kalian membuat kami menangis. Tapi kami tampaknya mesti jujur agar kalian tahu betapa berpengaruhnya apa yang kalian lakukan, berkesenian untuk mengubah kehidupan banyak orang.

Kami dua di antara banyak orang yang terus berjalan tanpa henti, mengamini semua lirik ciptaan kalian. Membagi pada banyak manusia lainnya yang akhirnya turut terinspirasi.

Berkat kalian, kami bisa memotivasi diri sendiri untuk bangun pagi, memperhatikan jendela, memelihara mimpi, merawat api dalam dada, untuk mencintai hidup secara tulus tanpa syarat, membiarkan diri tersesat, terhempas ke tanda tanya lalu kembali meyakini semua warna yang berpendar di sekitar. Karena kami tahu semesta berbicara tanpa bersuara.

Terimakasih membuat sepi kami indah. Terimakasih atas kejujuran kalian dalam mencipta. Selamat lahir kembali di lain waktu. Sampai jumpa lagi.

surat yang tertunda,

Intan dan Aria

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s