Category Archives: celoteh musik

my opinion about music etc

Paduan Suara Dialita

Mereka adalah Paduan Suara Dialita. Cari tahu saja cerita di balik keberadaan wanita-wanita hebat ini lalu simpulkan sendiri, mengapa kita perlu terinspirasi untuk selalu berpelukan dalam damai. Saat pertama kali mas Eko mengajukan nama Dialita untuk dibahas di workshop Kata Pahlawan, saya berpikir lebih jauh. Mereka perlu dikenalkan lebih dalam dan mendapat sorotan lebih tajam, di panggung utama, bukan hanya di sore hari di tempat kopi yang cukup 50 orang saja.

Tidak hanya saya dan teman-teman yang hadir, semua yang datang ke Musik Bagus Day perlu tahu untuk #menolaklupa, berdiri pada pemikiran yang adil serta mencoba untuk merasakan gelombang cinta yang besar dari para oma penyintas ini.

Salut untuk semangat tanpa batas. Melewati ruang dan waktu mereka berdiri lewat lirik dan nada, menyanyikan hal-hal yang selalu kita lupa, manusia perlu paham bagaimana cara menyikapi sejarah jua fakta.

Berikut adalah video-video mereka tampil.

 

Advertisements

Kind of Blue

Pagi yang menyenangkan dimulai dengan mengubek-ubek koleksi satu tahun lalu.

Saat itu kami baru saja belajar cara belanja piringan hitam di Tokyo dan menemukan piringan hitam istimewa “Kind of Blue” box set milik Miles Davis. Ini adalah piringan hitam wajib para penikmat jazz untuk masuk ke dunia spiritualnya Miles Davis.

Sebelum menyukai Miles Davis kami terlebih dahulu berkenalan dengan Lou Donaldson dan jatuh cinta dengan siapapun pemain alat tiup jazz, Erik Truffaz salah satunya. 3 orang ini seringkali kami prioritaskan, demi memiliki album ini, saat kere di Tokyo kami makan di Kombine.

Lucunya walau pengorbanan besar, sesampai di Jakarta kami lupa keberadaan album ini, terkecoh dengan album-album lainnya dan menyimpan rapi si box set ini.

Sampai pagi tadi, Aria iseng ingin mendengarkan “Kind of Blue”, lalu kita ubek-ubek isinya yang super banyak. Ada catatan tangan Bill Evans, foto-foto “behind the scene” album ini, buku cerita tentang Miles Davis, piringan hitam biru dan aneka CD.

Kadang melupakan sesuatu untuk seakan mendapatkan kejutan baru adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan di hari Senin.

IMG_5482

Substore Berpisah dengan Pasar Santa

pindahan substore

Baru selesai pindahan Substore Santa. Tempat cinta pernah bersemayam begitu pekat di sana. Dari Mocca, Maliq D’essentials, Dewa Budjana, Bonita, Noh Salleh dan lainnya pernah main dan merilis album mereka.

noh 2

Haru biru karena dulu hanya berdua dengan ABCD dengan cahaya remang berikut baru tau di lantai itu ada yang bunuh diri.

our floor

7 tahun mati lalu riuh lalu terlalu cepat meninggi hingga terkadang terlalu angkuh. Dari yang ratusan mengantri ingin buka kios hingga kini yang datang hanya sesekali lalu. Pasar Santa kian mendung bukan itu yang membuat kami pindah.

Barang Substore kian banyak. 2×2 meter tidak cukup mewadahi, belum lagi turntable titipan teman dan kita reseller utama 2 merk turntable yang ternama (Numark dan Audio Technica), singkat kata, tidak tau mesti bagaimana lagi mendisplay barang-barang itu.

Saya, Aria dan Radit kiat gemar memasak, kami ingin memberikan rasa personal dari telinga, hati hingga perut pada para pelanggan. Kopi secangkir, semangkuk makanan lezat, musik nikmat, bisa tersaji bila kami diberi ruang lebih.

Bukan pantang menyerah dengan keterbatasan. Tapi kami sudah berusaha mengajukan kolaborasi dengan kiri dan belakang namun tidak ada respon baik. Akhirnya kami mencoba untuk mengajak teman-teman datang ke rumah untuk ruang yang lebih leluasa. Melihat keberhasilan Substore Tokyo dan Bandung yang bisa memfasilitasi obrolan ringan hingga berat, pelanggan bisa masuk ke dalam kopi yang disesap, kiranya Substore Jakarta iri hati ingin melalukan hal serupa.

Di basement bawah rumah ada sebuah niat untuk membuat ruang yang lebih bebas gerak, bar kecil, studio musik, bila hendak bisa pun dibuat pameran, namun sepertinya belum dekat-dekat ini. Masih membutuhkan beberapa bulan lagi. Namun jangan segan untuk mampir ke Sama House jalan Saraswati no 23C, pintu kami terbuka lebar untuk kalian, memasak, mendengarkan musik, bertukar pikiran, kopi, teh, jus, semua tersedia…

Hati kami tidak bisa tidak sedih melepas pasar Santa namun tak ada daya perubahan adalah sesuatu yang paling abadi. Esok, lusa atau nanti kita tidak pernah akan tau apa yang bisa terjadi. Yang terbaik adalah saat ini.

Musik Itu Haram?

Sujoso Karsono a.k.a Mas Jos, seorang bapak yang inspiratif besar di tahun-tahun musik Indonesia sedang jatuh bangun, sekitar tahun 50-60an.

Kiprahnya banyak sekali, di antaranya membangun Irama records, membuat radio Elshinta, mengembangkan jazz, progresif hingga Hawaiian Music di Indonesia. Ia membuat harum nama Indonesia karena membawa Indonesian All Star Jazz (Benny Mustafa, Jack Lesmana, Bubi Chen, Marjono, Jopie Chen manggung dan rekaman di Jerman di bawah label Saba.

Tidak hanya itu, ia pun mencari bibit-bibit muda dan mengorbitkan mereka, salah satu yang mungkin kita luput cerita adalah Koes Bersaudara.

Ini tentang Sujoso Karsono, dan masih banyak lagi cerita menggugah dari musisi-musisi Indonesia lama yang tidak terhitung jumlahnya. Belum pun terhitung musisi masa kini yang ikut berperan besar dalam perubahanan, menjadi tameng garda terdepan untuk Indonesia. SLANK dan Iwan Fals dua di antaranya.

Pada teman-teman musisi maupun pecinta musik, tetaplah dengarkan nurani untuk bergerak untuk musik, jangan ragu untuk menjadi diri sendiri. Walau ada oknum berkedok Islam bilang musik itu haram. Islam sendiri adalah berserah diri (total surrender), bila misi dalam hidupmu kau temukan di musik. Kamu berdiri secara Islam untuk musik dan kemaslahatan banyak orang.

Pilihlah musik atas dasar panggilan, sampaikan kebaikan-Nya melalui nada. Musik itu jiwa yang lahir atas keinginan-Nya melalui akal budi manusia. Jangan lupa juga bila Wali Sanga mengantarkan agama Islam dengan penuh cinta salah satunya dengan musik. Miles Davis bersama albumnya Kind of Blue bisa jadi contoh musik yang sangat dekat dengan spiritual.

Sejarah yang akan mengingat kiprahmu. Jangan takut untuk berjalan lurus, Allah Maha Penyayang. Dalam musik banyak cercah rasa sayang, inspirasi dan harapan. Bilapun kamu hilang kepercayaan pada politik, pulanglah pada musik.

Tulisan spontan menanggapi ini;

Tentang Musik Itu Haram

https://t.co/C9xUhY0rNQ?ssr=true

Salam musik,

Pecinta musik yang sedang melakukan upaya terapi musik untuk manula dengan penuh kasih dan sayang..

Abah Iwan Idolaku

Malam itu saya terjebak macet 5,5 jam dari Jakarta ke Bandung untuk menonton dan menghadiri diskusi bersama Iwan Abdurahman yang akrab disapa Abah Iwan. Beliau adalah generasi awal Wanadri, penggubah lagu di masa awal Bimbo dan penggubah lagu-lagu alam yang sangat terkenal seperti Burung Camar dan Melati dari Jayagiri. Saya dan Aria pun sangat menyukai karya beliau bersama Kalikausar.

Ini foto terakhir yang saya ambil setelah tahu ternyata selama acara tidak boleh mengambil gambar.

Foto abah Iwan bersama pasukan tentara khusus, ia bercerita tentang teman-temannya yang memiliki tato tapi dia tidak punya. Akhirnya dia memamerkan bekas cacar yang berbentuk angka 10 di lengan atasnya seraya tersenyum bangga kalau ia punya tato juga. Ada salah satu tentara yang salah kira; “Waaa kamu sudah makan 10 orang ya?”

Di balik cerita-cerita humornya Abah Iwan sangat spiritual sekali, ia berkeliling dunia menaklukan berbagai gunung dan bernyanyi bersama alam namun tak lupa mendekatkan diri pada Tuhan. Cerita-ceritanya menggetarkan. Beliau sangat senang dengan effort kami yang datang dari Jakarta seraya menceritakan niatan yang tadinya mau minta ttd abah Iwan di vinyl Kalikausar kami tahun 79.

Sangat kagum sekali pada abah Iwan, tak heran mengapa nama bandnya dipilih Kalikausar yang dalam sanskerta berarti sungai sejuk yang mengalir dari surga..

Terimakasih banyak untuk mas Budi Kineruku, tanpa undangan dari beliau kami takkan bisa menikmati alunan musik Abah Iwan langsung dari penggubahnya.

 

Sumber foto Burung Camar; Emilian Robert Vicol

 

Berjalan Lebih Jauh Bersama Banda Neira

#TerimakasihBandaNeira

img_2579Dear Ananda dan Rara,

Saat itu tahun 2012, 5 tahun yang lalu, di waktu yang sama kalian membuat Banda Neira, kami pun berjalan lebih jauh ke Timur dengan merekam jejak melalui menujutimur.com.

Tanpa sadar lagu-lagu kalian menjadi pengubah kehidupan kami kelak. Setiap hari, lagu-lagu dari album pertama menjadi musik latar perjalanan kami saat menyelam lebih dalam, memasuki hutan, bertemu dengan orang-orang baru yang bercerita banyak tentang hidup yang sesungguhnya. Kami mengarungi semuanya sembari mengupas lirik kalian, bersenandung di tiap waktu. Kami tidak sekadar menikmati nada, lebih dari itu, kami ingin menjadi pribadi yang bermanfaat seperti kalian yang memberi semangat di saat-saat tersulit kami dalam perjalanan berkeliling timur Indonesia waktu itu.

Hingga satu saat Menuju Timur benar-benar tiba di Banda Neira, bertemu dengan sebuah tempat yang kalian jadikan nama pengikat cerita dari lagu-lagu yang selalu mencengkerami sanubari kami. Tidak ada hal yang pertama kami lakukan selain merekam keadaan di Banda Neira sambil mendengarkan seluruh lagu kalian lalu mengunggah di media sosial sambil berkhayal andai kalian membuat konser intim di sini. Banda Neira di Banda Neira.

Sayang khayalan kami mesti pupus setelah tahu kalian moksa. Namun karya kalian masih hidup, memedar menjadi cahaya yang sinarnya masih bisa terdengar kapan pun saat kami mau, melalui lagu.

Dear Ananda dan Rara,

Kami sebelumnya enggan bersaksi kalau mendengar lagu-lagu kalian membuat kami menangis. Tapi kami tampaknya mesti jujur agar kalian tahu betapa berpengaruhnya apa yang kalian lakukan, berkesenian untuk mengubah kehidupan banyak orang.

Kami dua di antara banyak orang yang terus berjalan tanpa henti, mengamini semua lirik ciptaan kalian. Membagi pada banyak manusia lainnya yang akhirnya turut terinspirasi.

Berkat kalian, kami bisa memotivasi diri sendiri untuk bangun pagi, memperhatikan jendela, memelihara mimpi, merawat api dalam dada, untuk mencintai hidup secara tulus tanpa syarat, membiarkan diri tersesat, terhempas ke tanda tanya lalu kembali meyakini semua warna yang berpendar di sekitar. Karena kami tahu semesta berbicara tanpa bersuara.

Terimakasih membuat sepi kami indah. Terimakasih atas kejujuran kalian dalam mencipta. Selamat lahir kembali di lain waktu. Sampai jumpa lagi.

surat yang tertunda,

Intan dan Aria

 

Om Telolet Om Mendunia

Fenomena pengumpul klakson bis sudah ada dari sekitar 2 tahun yang lalu. Bisa diintip dari link Youtube Indo Bus Spotters yang mengumpulkan kegiatan anak-anak yang sering meminta klakson pada bis antar kota. Kemudian mulai ramai lagi di media sosial setelah musisi-musisi EDM merasa kebingungan dengan spam humor ungkapan “om telolet om” di kolom komentar Instagram mereka.

Skrillex sampai membuat lagu berjudul Born Up The Telolet. Selain itu musisi-musisi EDM yang lain turut meremix; http://www.billboard.com/articles/news/dance/7632431/om-telolet-om-songs-best-remixes-list. Belum lagi K-Pop singer Bambam ikut mengomentari dan menjadi viral lalu diangkat menjadi berita oleh Billboard. So awesome!

And the most coolest thing salah satu yg main di stage Garuda kemarin di DWP, memposting Telolet yang sama sekali gada hubungannya dengan klakson bis,  Zedd posting video travelling sambil promoin Indonesia secara ga langsung dengan mengcapture Bali berikut bawah lautnya! Thank you, Zedd!

Sebagai seorang diver gue happy banget laut Indonesia dihighlight..

Ya beginilah Indonesia kita yang unik ini, hal-hal yang tak terpikirkan akan menjadi menarik karena dikemas menjadi hal-hal sederhana. Mengutip satu pendapat dari Dian Paramita di akun Path-nya:

Don’t say Om Telolet Om has no meaning, so we should just enjoy it. Please do not underestimate the meaning behind it. Because it means happy kids. And not at all of us can be that happy over something so simple. Lucky them.

Karena masyarakat yang bisa menciptakan kebahagiaannya sendiri adalah masyarakat kreatif yang siap menjadi bangsa besar. HAHAHA

The Bike Song

Pernahkah kamu mendengarkan sebuah lagu berjudul The Bike Song dari Mark Ronson? Coba simak sebentar dan apa yang kamu bayangkan?

Bersepeda membutuhkan niat yang bulat untuk meruntuhkan kemalasan-kemalasan yang senantiasa membisikan ajakan hal yang lebih santai dan mengasyikan.

Misal; “Ya enakan nonton TV di rumahlah ga kena panas.” Atau “Hm lebih baik browsing tiket murah di kamar berAC siapa tau ada yang nyangkut.”

Kalau saja kita berhasil mengusir kemalasan itu, bersepeda dapat menjadi wahana mendapatkan inspirasi dan banyak wawasan baru.

Beberapa bulan ke belakang saya mulai membiasakan diri mengendarai sepeda. Dan apa yang saya dapatkan? Saya bisa melihat lebih nyata kebahagiaan-kebahagiaan orang yang ditemui di jalan. Tidak hanya menyusuri jalan besar, saya mencoba masuk gang-gang setapak yang jarang dilalui.

Dari situ saya bisa melihat langsung pada mata abang Bakso yang sedang tersenyum, saya menyerap kebahagiaan yang dia punya, entah karena apa, mungkin dagangannya sangat laris hari ini.

Tak sengaja saya bertemu dengan seorang bapak yang membawa perlengkapan audio lengkap menempel di sepedanya, saya mengikutinya dan mendengar beliau menyanyi kecil meniru lagu yang sedang diputarnya. Kocak memang. Ia pun menyadari keberadaan saya dan kami mulai bertukar senyum. Ada perasaan hangat yang hinggap di hati.

Namun tidak hanya kebahagiaan yang saya temui, ada nada sedih pada nafas seorang kakek yang rumahnya sebelah kuburan, saya melihat ia sedang mendengarkan ceramah upacara penguburan seseorang. Beliau tampak sedang menguping, ada terlihat raut khawatir. Mungkin ia pun sedang mempersiapkan diri, bilamana tiba saatnya ceramah itu ditujukan sebagai ucapan perpisahan untuknya.

Bersepeda…

I run around town
Around around and round
The pedal to the metal
The pedal to whatever

Saya kadang hanya mengikuti kemana pedal mengarah, kadang ia salah arah lalu mencari arah yang benar. Kadangpun ia lelah hingga perjalanan terasa lebih lambat.

Satu hal yang bisa kita rasakan saat bersepeda; momen kini. Terkadang kita sibuk mengingat masa lalu dan merencanakan masa depan namun lupa menikmati hal yang kini. Momen-momen tersebut seolah merefleksikan waktu yang seakan berhenti, kita tak lagi berpikir tentang kemarin dan esok.

Bukankah manusia terlampau lelah untuk berpikir dan lupa bagaimana caranya hening, menikmati yang ada di depannya?

Sempat saya membaca sebuah kutipan indah dari bli Wayan Mustika;

“Heninglah sejenak. Bebaskan pikiranmu dari tugas-tugasnya untuk memahami kehidupan yang tak kuasa dipahaminya. Biarkan ia istirahat dan hanya menjadi pendengar bahasa hatimu yang netral. Dengarkan pesan-pesannya yang bijak dan bebas dari penilaian. Karena saat itulah Aku, Sang Jiwa dalam dirimu, sedang bicara padamu sebagai hati nurani.”

 

Bersepedalah, kamu akan menemukan keramaian yang penyendiri, hangat dan kamu bisa masuk dalam hening yang diciptakan, di situlah kamu akan merasa nikmatnya mensyukuri apa yang dimiliki…

 

 

 

 

Keep Keep Musik, Happy Tummy Happy Digging Experienced..

Bandung konon didaulat menjadi kotanya orang kreatif. Tentu saja kreativitas dan musik adalah hal yang tak bisa dipisahkan. Hampir tidak ada orang kreatif yang tidak suka musik, begitupun sebaliknya jarang ditemukan orang suka musik yang tidak kreatif.

Kebanyakan orang kreatif penyuka musik adalah manusia-manusia pemberani. Berani berdiri pada keyakinannya untuk menjalani hidup ibarat hobi, memilih apa yang disukai lalu dijalani dengan segenap hati.

Itulah semangat yang saya lihat begitu kuat pada record store apik di pertigaan Ciumbuleuit, tepatnya jalan Kiputih nomor 1. Tampilan depannya yang tertata rapi, terjaga sejak beberapa dekade silam. Rumah tua idaman yang memiliki banyak hal menarik; musik terbaik, makanan minuman enak dan suasana khas Bandung yang sangat sejuk.

Jangan pertanyakan lagi tentang waktu kalau saja kamu bisa memberikan kesempatan untuk jemari mencari rilisan fisik yang disukai. Siap-siap larut oleh ratusan menit yang akan terbuang tidak sia-sia. Keep Keep Musik adalah tempat jebakan yang menyenangkan, saya dengan sukarela masuk ke dalam ruang nyaman yang membuat betah berlama-lama.

IMG_4559.JPG

Sengaja kami datang untuk sekedar mengintip koleksi mereka, ampun, terlalu banyak yang mesti dibeli. Akhirnya kami membawa pulang 3 piringan hitam yang sudah dipilih oleh Adit, salah satu pemilik Keep Keep yang tidak perlu diragukan lagi selera musiknya. Saya sangat suka membeli piringan hitam yang sama sekali belum pernah didengar. Kejutan dalam kepingan piringan hitam yang dipilih secara acak memberikan sensasi yang berbeda dibanding membeli piringan yang sudah kita incar sebelumnya.

IMG_4580.JPG

Apapun itu anggaplah teori-teori ga jelas buatan penggemar piringan hitam amatiran. Terpenting adalah kenikmatan digging yang mengasyikan di Keep Keep. Aria sepulang dari tempat itu memberikan kesannya pada saya; “Seneng banget deh, di sini tuh diggingnya enak, kerasa banget nyari-nyarinya yah.” Sayang wajahnya yang berseri-seri saat bercerita tak bisa terekam jelas di kamera, saat kami bertiga mengabadikan rupa. Mungkin pertanda untuk kami, belanja lagi, datang lagi dan foto lagi. Terimakasih Keep Keep sudah hadir di Bandung untuk turut serta memajukan ekosistem musik. Horas bah!

IMG_4579.JPG

 

Ps: Sebelum tulisan ini dibuat, saya sudah merekam percakapan sekedar wawancara dengan Adit dengan beberapa pertanyaan serius khas pewarta, sayangnya obrolan tersebut lebih banyak berisi pergosipan event dan permusikan yang membuat saya ragu yang mana mesti disiar yang mana mesti disimpan. Akhirnya tulisan ini terlahir dalam bentuk opini tanpa fakta, mungkin kalian bisa membaca tulisan tentang Keep Keep ditulis oleh blogger lain. HAHA.

 

Jakarta, 19 Desember 2016

Dedikasi Ibu Marintan Sirait pada Jendela Raksasa

Dosen favorit saya semasa kuliah ditakdirkan bertemu lagi. Ia dan Jendela Ide Bandung memang sangat berdedikasi untuk membangun skena performing art dan pertunjukan seni sejak dulu.

Kini ia sedang menjadi sutradara dan tim artistik drama musikal anak/remaja bertajuk Jendela Raksasa. Berbagi cerita bagaimana sebuah ekosistem pertunjukan hendaknya dibangun dari hulu ke hilir dengan mengoptimalkan kreativitas yang tidak hanya sebagai konsep yang mendewakan seni semata. Mempopulerkan seni lewat anak/remaja menjadi aset penting supaya mereka bisa selalu waras di tengah pergulatan dunia yang kian panas.

Ibu Marintan Sirait dengan ketenangan sungai tanpa riak, membuat saya belajar arti pengabdian pada masyarakat. Bagaimana seni mesti menyentuh segala sendi kehidupan. Dan anak/remaja adalah salah satu unsur penting yang disertakan.

Jendela Raksasa sebelum pementasannya melakukan workshop bunyi ke beberapa sekolah. Menggunakan metode seperti folley artist, mengumpul dan mencipta suara dengan keterlibatan anak sekolah untuk digunakan sebagai sound effect di drama musikal tersebut. Supercool yah. Orang-orang hebat seperti bu Marintan banyak sekali di Indonesia ini, bolehlah sesekali kita mengekspos orang-orang inspiratif macam beliau ketimbang memberikan panggung pada boneka-boneka politik penuh kepentingan..

Salam seni..