Category Archives: Uncategorized

– with aria and Degely

View on Path

Advertisements

Edelweis On Papandayan

When I first knew Tora and Wisha will go to the mountain, I was tempted to join and invite Aria participate. Although I do know mountain climbing is not something fun instantly. Need struggles and processes. My experience several times to walk away, I always cry in the middle of the road. Waerebo I was not able to cry because I was busy chatting with a local guide. But in Gili Lawa, Badui Dalam and forests in Aru, Aria had to persuade me to wait with the lure of destinations soon visible. Yes, I walked a couple of times with a duration of time long enough.in the dark. 8 hours approximately. So when I wanted to go to Papandayan feel brave enough to take the risk of a hike for 3 hours.

Funnily enough to H minus one ahead of hiking time, we have not had time to pack and get ready. Happens in the day it happened complicated. We intend to bring portable turntable to the top of the mountain, but the battery could not be bought. Was willing to make vblog about traveling while you hear music in the wild, and all of plans are failed

IMG_0075.JPG

Papandayan known as the mountain for beginner climbers, the track is not too hard, the forest is still nice to enjoy and have a wide field Edelweiss.

We started journey around 2 am and arrived at 5 am on Garut. After going to the market and rest a while, at 9 am we started to go hiking. On the market I had stoned who was thrown by a madman that looks like a zombie. Absurd.

IMG_9866.JPG

Approximately 3.5-hour hike up and down and past the limestone plateau that smelled of sulfur, finally arrived at Pondok Selada, our camping spot.

Because pitched tents require special skills, I could only watch while eating snack and warm mug beans in the kiosk. Yes, do not worry hungry stomach, many kiosk up there. Pssst.. for you are not confident of a hike but still want to go, there are motorcycle taxis that can deliver up to the tent area.HAHA!

IMG_9939.JPG

Alex (@amrazing), is one of the people who made us want to go to Papandayan, see the edelweiss and shooting stars. At night, the preparation is ready to take a star. We are looking for the right moment while waiting for dinner. Suddenly, i heard the sound of crutches crutches krusuk..gedubruuuk .. .. tent we entered into a boar and he could not get out of the tent. Confused and then tore the inside of the tent with fangs, once the tent was collapsed. Event 1 minute was enough to amaze me, boars destroying tents in a short time. I still did not believe that he knew that he was looking for was wheat biscuits that are already open. Whether he likes or a very sharp nose that can smell a biscuit from a distance. Between upset, wonder and laughter, we started cleaning up to move the tent. Once completed through all the drama boar, stars not seen covered with clouds. Slightly disappointed but still fortunately it did not rain.

We decided to go to bed early in to see the sunrise, again when you wake up and go to the crater, the sun was not visible due to heavy clouds. Im not disappointment because traveling is not allowed expects, I cheerfully wanted to go out to find edelweiss . Saw the photos on the travel blog and tempted to run and greet the beautiful flowers.

That plan went out to the field edelweis not very smoothly, was a stray one hour past the endless steep hill. Finally we decided to split up the group and find their own way and be successful. Previously passed road is hard enough and quite difficult to pass, fortunately, we can find another way.

IMG_0034 (1).JPG

This the edelweiss field that I loved. i wanted a longer stay here but I still nervous if meet again boar. HAHA.

I make a collection of songs that is good to hear while enjoying the edelweiss meadow, enjoy the mixtape.

IMG_0026.JPG

 

Gairah Rilisan Fisik Kini

Beberapa saat yang lalu sebuah toko musik besar mengumumkan penutupan beberapa cabangnya, linimasa di media sosial sontak bereaksi sedih dan prihatin. Namun di saat yang sama toko musik kecil kian menjamur dan bertambah banyak. Coba cari kata kunci bertanda pagar piringan hitam, CD lokal, jajan rock, kaset di instagram; niscaya akan ditemukan berbagai toko musik kecil di berbagai belahan daerah berjualan rilisan fisik sampai dengan alat pemutar rilisannya. Bagai berjalan menuju kenangan masa lalu, mereka menjajakan nostalgia berikut cerita-cerita yang selalu menarik untuk disimak.
Uniknya mereka bisa bertahan di tengah isu rilisan fisik terkalahkan oleh rilisan digital. Untuk sebagian penggemar rilisan fisik, romantisme mencium aroma kertas pembungkus, meraba karya seni di sampul dan mengejar rilisan yang disukai dapat memacu adrenalin. Gairah-gairah semacam itu takkan tergantikan oleh rilisan digital.

IMG_8339.JPG

Toko-toko musik kecil yang jumlahnya lebih banyak daripada media penyedia streaming musik legal mengakui keberadaannya bisa terselamatkan oleh modal kecil, bahkan tanpa harus menyewa tempat mereka tetap dapat berjualan memanfaatkan media sosial. Setahun sekali wujud-wujud asli mereka dapat ditemui di ajang Record Store Day.
Geliat rilisan fisik sudah terlihat sejak 5 tahun silam. Tapi sebenarnya kolektor rilisan fisik sudah eksis sejak lama. Ada pula yang tetap bertahan dari era remajanya hingga kini mengumpulkan aneka rilisan fisik. Lalu bagaimana dengan mereka yang baru saja menjadi pengumpul rilisan fisik? Jumlahnya selalu bertambah dan memberikan warna baru dunia musik Indonesia.

musical trip bangkok 2
Kerapkali ditemui anak muda yang mendengarkan musik sambil menggali jejak sejarah, tempat loak menjadi salah satu tempat penampung harta karun, tak jarang juga ada yang berkelana ke radio-radio sambil berharap dapat mengakses rilisan fisik promo radio di masa lampau (piringan hitam khusus promo radio) atau mempunyai hobi baru datang di pertemuan keluarga besar bertanya-tanya tentang rilisan fisik bekas nenek kakek seraya menanti lungsuran mereka yang tersisa.
Untuk mereka yang beruntung mendapatkan lungsuran jejak alat pemutar rilisan fisik, baik itu pemutar piringan hitam atau kaset (pemutar CD masih mudah dicari) tidak perlu bingung mencari tahu bagaimana cara memperbaiki. Para penyuka rilisan fisik akan dengan senang hati berbagi kontak teknisi yang mampu memperbaiki. Bagi yang baru ingin memulai ada yang memilih untuk menjadi pengumpul tanpa mempunyai alat pemutar namun ada pula yang membeli alat pemutar terlebih dahulu. Kini banyak pilihan pemutar piringan hitam yang tersedia di pasaran, perlu referensi untuk mengetahui apa yang dicari. Untungnya pemutar kaset masih bisa ditemui di beberapa tempat.
Banyak cara untuk mendapatkan rilisan fisik. Bergumul di tengah komunitas para pengoleksi atau bergerilya, menyusup rumah-rumah yang disinyalir menyimpan aneka rilisan fisik. Pengoleksi bisa tetap santai atau menjadi pemburu yang gahar. Tanpa terasa pengetahuan musik pun bertambah dan apresiasi terhadap musik meningkat. Untuk para pengoleksi yang sehari-harinya bermusik, mereka menjadi musisi yang kaya referensi. Sedangkan pengoleksi yang sekedar hobi, kenikmatan tersendiri saat melihat koleksinya membuat lemari sesak. Ada kebanggaan dan cerita-cerita unik di balik perburuan yang selalu diceritakan berulang pada sejawat yang berkunjung.Banyak perubahan dalam hidup saat asyik menjadi pengoleksi rilisan fisik. Terjebak manis merawat barang-barang kesayangan, meluangkan diri untuk memutarnya satu persatu, di tengah aktivitas ada upaya-upaya menyisipkan sesaat untuk mendengarkan rekam jejak musik dengan cara yang lebih membutuhkan perhatian khusus. Bonusnya adalah perasaan riang saat menikmati waktu terasa melambat.

London Musical Trip

 

 

Music lovers pick London as their bucketlist. So did I, dreaming of London for exploring the various music was born on this city. On last September I got a chance to visit with the family for 6 days. I use this opportunity to digging LPs, visited record store and enjoy the musical performance.Here are a few places that I visited with the shortest possible time. As usual I always go to the art market and flea market.

 

  • Let’s start from Camden market. Quite interesting but too neat and touristic for me. But I can get older musicians LPs with low prices, 3 pounds, 2 pounds even if you are lucky. There are 3 record store quite a lot of choice but not quite complete. There is one special record store reggae music here. Provided free wifi for you who like digging while browsing discogs. LOL.

 

  • Covent Garden market, also known as the art market. The artist sells his work here. Once satisfied to see that the market like this exhibition, we could relax in the food court area similar to the many choices of good food. Try Mushroom Burger from Shake n Shack. In the middle big mushroom they put mozarella . While enjoying the food you can watch a variety show performance of the brass section to the opera singer.

    A little out of its market area you can see at a record store that guards once pleasant and very helpfull; Fopp. This is the first record store I went to, a collection of its current musicians quite complete. One floor second floor mixed music and movie collection. Cheapest price compared to other record store.

 

 

 

  • Portobello Market, one of the most lovely market in London. Colorful, warm, market spilled filled with street performers, antiques and LPs is expensive, many rare releases and legend. But do not worry Rough Trade is open here as well, if you can not to East London, could be spending a physical release here.

 

 

  • Berwick street, Soho.Initially we were here because my husbro want to take pictures set in Berwick street along LPs Oasis “Whats The Story Morning Glory”. And I was met with Reckless record , record store that has a collection of jazz releases overwhelming and it turns out they are orange shop in the Oasis album cover.  After chatting with a Japanese man kind we left Tesla Manaf’s CD he listens. And not far from there is place to drink beer, a complete painting tools and Sister Ray Soho is famous as a first Sister Ray on London. Waaa .. everything is unexpected. This delightful area. Do not forget to stop by also to Sounds of The Universe, still in the same area.

 

  • One of the most impressive from the street performer London is well-organized, those musicians who mostly sell releases, so we linger to see his performance. A small part singing, but still played with soulful.

 

image

  • You have not been to London if you have not watched any of a variety of musical performance. The Book of Mormon, Lion King, Mamma Mia, Billy Elliot, The Phantom of the Opera, Les Miserables and Wicked. We chose Wicked because of love with the story Wicked Witch and OZ. It turned out that the price is still relatively affordable, 20 pounds. Not too far from the stage. If one wants to watch at close range can rent binoculars for 1 pound.

 

Unfortunately we don’t have enough time for  jazz bar,  Abbey Road, Beatles museum, live musicIndependent Label Market, where labels will be selling direct to fans, it’s in Spittalfields Market.

We also passed Soul Brother record store which is said to have a great collection.Next, we will should stop by. We will back to London for the survey Substore London. Amen. HAHA

 

#RekomendasiSenin 18 Januari 2016

Sekarang saya hidup dimana akses informasi memudahkan untuk mengeksplorasi musik bagus. Namun setiap manusia mempunyai kemelakatan-kemelakatannya sendiri, misalnya kemelekatan terhadap waktu. Walau akses mudah, saya tidak terlalu punya banyak waktu. Maka setiap hari Senin adalah saatnya eksplorasi sambil bertanya paa teman-teman, ada rekomendasi musik bagus apa yang mesti saya simak. Saya pun akan gantian memberikan rekomendasi musik bagus yang baru saya temui akhir-akhir ini.

Beberapa musisi yang albumnya baru saja saya beli dan ternyata bagus semua. Ini dia #rekomendasiSenin dari saya.

  • Asteriska, albumnya bagus banget, bertajuk Distance. Kamu bisa lihat contekan lagunya di sini. Cewek cantik ini adalah vokalisnya Barasuara juga. Kamu juga bisa denger lagunya versi panjang di soundcloud-nya. Suaranya yang khas dengan kelembutan yang pas membuat lagu-lagu Asteriska cocok dinikmati saat ingin melepas penat.

 

  • Awal membeli CD Sri Hanuraga di Kineruku saya ga pernah nyangka kalau ini adalah album jazz yang mengejutkan. Saya pun baru tau kalau album yang saya beli adalah album kedua. Seminggu setelah membeli albumnya Aga, begitu kemudian saya memanggilnya, manggung di The Papandayan Bandung. Bersama Kevin Yosua dan Elfa Zulham, Aga bermain dengan lincahnya.Dia pianis jazz yang baru pulang lagi ke Indonesia dan sekarang mengajar di IMDI. Kalau iseng pengen lihat performnya bisa cek di sini.

 

  • Gustu Brahmanta trio percampuran antara jazz dan musik etnik Bali. Gustu Brahmanta sendiri adalah seorang drummer. Di albumnya yang berjudul Putri Cening Ayu, ia terinspirasi dari lagu-lagu folk Bali yang populer. Dengan balutan irama rindik, gamelan Bali yang terbuat dari bambu, Gustu Brahmanta mampu menyajikan sebuah album yang layak didengarkan oleh siapapun yang menyukai musik-musik etnik unik. Perform mereka di Beishan World Music Festival.

 

  • The Jongens, saat tak sengaja berkenalan dengan Sri Hanuraga, saya sekalian berkenalan dengan Elfa Zulham yang kali itu sedang membantu Aga. Saat saya menanyakan band-band yang dimotori oleh Zulham, ia menyebut salah satunya adalah The Jongens. Gabungan dari teman-teman semasa studi di Belanda, The Jongens adalah quartet yang bernafaskan jazz modern. Di albumnya yang bertajuk Industri mereka mengangkat hal-hal yang dekat dengan keseharian lalu menginterpretasinya pada nada-nada yang berkesan padat namun lugas. Sayangnya saya tidak bisa mendapatkan contoh lagu-lagu The Jongens terbaru yang dirilis tahun lalu, mungkin kiranya video The Jongens feat. Dira Sugandi bisa menjadi jembatan untuk membeli CD mereka dan mengenal lebih jauh lagi quartet keren asal Jakarta ini.

 

  • ATSEA; Anatomy The Sea, saya mendapatkan Cdnya minggu lalu ketika menonton Sound Delicious garapan Kolibri Records bersama Loubelle shop. Bundlingnya bersama sebuah buku yang mirip buku puisi (buku intrepretasi dari lagu mereka, ssst ada nama Rain Chudori sebagai salah seorang yang mengkoordinasi buku ini). Buku inilah yang menarik perhatian saya, Kolibri bekerjasama dengan Murmur house. Suka! Setelah membeli dan mendengarkan baru disadari ternyata saya bisa menikmati pop juga. HAHA. Mereka menyebut genre musiknya surf pop instrumentalia. Saya suka karena banyak unsur dream pop di dalamnya. Bukanlah keahlian saya untuk mereview namun ada satu tulisan bagus yang mewakili perasaan saya terhadap ATSEA, sila baca di sini.

 

Cukup 5 musisi di atas #rekomendasiSenin dari saya namun ada rekomendasi dari beberapa teman yang juga akan saya cantumkan di sini;

 

Silakan mendengarkan musisi-musisi ini, kalau enak sila disebar..

 

 

*foto Asteriska diambil dari Soundcloud yang bersangkutan.

Ikkubaru Tour Jepang

Press Release Ikkubaru,

“Kuartet City Pop Asal Bandung ikkubaru akan Melaksanakan Rangkaian Tur Jepang Selama Seminggu Penuh”

ikkubaru

Setelah sebelumnya merilis debut album “Amusement Park” dalam format CD pada pertengahan tahun 2014 dibawah naungan Hope You Smile Records, yang merupakan record label asal Jepang.  Kuartet asal Bandung pengusung aliran musik Adult Contemporary atau yang kadang biasa disebut juga sebagai City Pop ini memastikan akan melakukan rangkaian tour bertajuk “ikkubaru Japan Tour 2015”selama satu minggu penuh, terhitung mulai 16 Juni 2015 hingga 22 Juni 2015.

Melalui siaran pers, Muhammad Iqbal selaku vokalis sekaligus gitaris dan kibordis band yang liriknya didominasi bahasa Inggris ini mengaku bahwa proses persiapan tour yang digelar oleh promotor Jepang DUM DUM LLP ini terhitung cukup singkat. “Alasan sang promotor menawarkan promo tour ini ialah murni karena mereka menganggap bahwa musik ikkubaru cukup terkenal di kalangan early trend seeker dari berbagai pilihan musik cutting edge yang tersedia di Jepang saat ini. Selain itu melalui email, mereka juga yakin kalau musik ikkubaru nantinya bakal beken.”, pungkasnya.

Tak tanggung-tangung, band yang juga diperkuat oleh  Rizki Firdausahlan (Gitar,Vokal),  Muhammad Fauzi Rahman (Bass) dan Banon Gilang(Drum) ini pun akan menyambangi 4 kota di negeri Sakura sekaligus secara berturut-turut, yakni Fukuoka, Kobe, Osaka dan Tokyo. Iqbal lantas menambahkan, “Tanpa pikir panjang kami dengan cepat mengiyakan pinangan di awal tahun tersebut, apalagi kesepakatan dengan promotor kali ini pun cukup menguntungkan. Seluruh akomodasi dan transportasi untuk tur 4 kota ini dicover terlebih dahulu di depan.”.

Sebagai kejutan, di beberapa gig pada tour yang dimulai di awal musim panas ini, ikkubaru juga akan melakukan beberapa seri pertunjukkan dalam set akustik, memainkan lagu khusus dalam bahasa jepang, serta tak ketinggalan akan berkolaborasi dengan 2 seniman asal Jepang yang tercatat pernah meremix serta bekerjasama menulis lagu dengan mereka, yaitu Tofubeats (J/Produser) dan Especia (band dari Osaka).

Siapakah Dia?

image
Saat-saat berkesan, saat ku dikenalkan
Dengan setangkai mawar yang sedang mekar
Bagaikan terjebak, hatikupun meledak
Yang tak pernah terjadi kini kualami

Sejak kehadirannya, burung-burung bernyanyi
Alam berwarna-warni, mentari di ujung rambutnya
reff :
Inikah tanda2nya bunga asmara

Ingin bersemi sekali lagi
Tanda2nya bunga asmara
Ingin bersemi di dalam hati ini sekali lagi
Bagaikan terjebak, hatikupun meledak

Yang tak pernah terjadi kini kualami
Sejak kehadirannya, burung-burung bernyanyi
Alam berwarna-warni, mentari di ujung rambutnya

Album Mencari Tuhan, Kelompok Kampungan

Mereka Mencari Tuhan (Album Kelompok Kampungan – Mencari Tuhan)
Lirik & Lagu : Bram Makahekum

Kami ingat muka muka mereka
Ketika kami duduk dan bersama
Sinar bulan menari-nari
Memeluk mereka satu persatu
Kami ingat setiap wajah mereka
Ketika kami duduk dan berdo’a

Ada yang seperti SAWITO
Ada yang seperti HAMKA
Ada yang seperti HATTA
Ada yang seperti SUKARNO
Ada yang seperti RENDRA
Ada yang seperti BANG ALI
Ada yang seperti BUDHA
Ada yang seperti JESUS
a a a . . . . . . .
a a a . . . . . . .

Seperti sudah direncanakan
Setiap muka tanpa ekspresi
Batu pantai dan bunyi alam
Merangsang semua Panca indera
Membuat setiap jiwa satu . . . . . .
u u u . . . . . . .
u u u . . . . . . .

Dia yang seperti JESUS
Berambut gondrong sampai ke pundak
Bercelana Jeans dan juga jacketnya
Berdiri dan menengadah ke langit
Dia bilang :

” Tuhan aku ini milikmu
Semua tindakanku
Aku serahkan ke dalam tangan Mu
Melewati alam dan kehidupan “.

Lalu Dia yang seperti BUDHA
Menuangkan semangatnya kedalam telinga semesta
Dan berkata :
“Alam,
Lepaskan aku dari kotak-kotak kebudayaan
Yang menjadi beban kehidupan ini
Getarkan seluruh tubuh dan jiwaku
Agar aku dapat berkata : TUHAN tidak buta!”

Mereka mencari Tuhan
Mereka mendekati alam
Mereka mendekati kehidupan
Mereka mulai meragukan
Nilai-nilai yang sudah mapan
a a a . . . . . . .

……………………………………….

Lirik paling menyejukan sekaligus mencekam dari Kelompok Kampungan. Lagu dan lirik yang dibuat oleh Bram Makahekum, bisa jadi dianggap sebuah kesesatan pikiran saat itu. Bram yang merupakan murid dari Rendra, mengajak Rendra untuk menulis beberapa lirik di album-album mereka.

Album Mereka Mencari Tuhan diproduseri oleh Musica dan sempat dibredel oleh Soeharto karena lagu “Bung Karno”.

Berikut dasar-dasar pemikiran bermusik Kelompok Kampungan yang ditulis oleh Bram di blog Sawung Jabo 😀

https://sawungjabo.wordpress.com/2012/08/28/kelompok-kampungan-mencari-tuhan/

Simak pula tulisan mas Taufiq tentang album ini; http://www.jakartabeat.net/resensi/konten/cara-kampungan-mencari-tuhan