Category Archives: vinyl

Kind of Blue

Pagi yang menyenangkan dimulai dengan mengubek-ubek koleksi satu tahun lalu.

Saat itu kami baru saja belajar cara belanja piringan hitam di Tokyo dan menemukan piringan hitam istimewa “Kind of Blue” box set milik Miles Davis. Ini adalah piringan hitam wajib para penikmat jazz untuk masuk ke dunia spiritualnya Miles Davis.

Sebelum menyukai Miles Davis kami terlebih dahulu berkenalan dengan Lou Donaldson dan jatuh cinta dengan siapapun pemain alat tiup jazz, Erik Truffaz salah satunya. 3 orang ini seringkali kami prioritaskan, demi memiliki album ini, saat kere di Tokyo kami makan di Kombine.

Lucunya walau pengorbanan besar, sesampai di Jakarta kami lupa keberadaan album ini, terkecoh dengan album-album lainnya dan menyimpan rapi si box set ini.

Sampai pagi tadi, Aria iseng ingin mendengarkan “Kind of Blue”, lalu kita ubek-ubek isinya yang super banyak. Ada catatan tangan Bill Evans, foto-foto “behind the scene” album ini, buku cerita tentang Miles Davis, piringan hitam biru dan aneka CD.

Kadang melupakan sesuatu untuk seakan mendapatkan kejutan baru adalah sesuatu yang menyenangkan untuk dilakukan di hari Senin.

IMG_5482

Advertisements

Keep Keep Musik, Happy Tummy Happy Digging Experienced..

Bandung konon didaulat menjadi kotanya orang kreatif. Tentu saja kreativitas dan musik adalah hal yang tak bisa dipisahkan. Hampir tidak ada orang kreatif yang tidak suka musik, begitupun sebaliknya jarang ditemukan orang suka musik yang tidak kreatif.

Kebanyakan orang kreatif penyuka musik adalah manusia-manusia pemberani. Berani berdiri pada keyakinannya untuk menjalani hidup ibarat hobi, memilih apa yang disukai lalu dijalani dengan segenap hati.

Itulah semangat yang saya lihat begitu kuat pada record store apik di pertigaan Ciumbuleuit, tepatnya jalan Kiputih nomor 1. Tampilan depannya yang tertata rapi, terjaga sejak beberapa dekade silam. Rumah tua idaman yang memiliki banyak hal menarik; musik terbaik, makanan minuman enak dan suasana khas Bandung yang sangat sejuk.

Jangan pertanyakan lagi tentang waktu kalau saja kamu bisa memberikan kesempatan untuk jemari mencari rilisan fisik yang disukai. Siap-siap larut oleh ratusan menit yang akan terbuang tidak sia-sia. Keep Keep Musik adalah tempat jebakan yang menyenangkan, saya dengan sukarela masuk ke dalam ruang nyaman yang membuat betah berlama-lama.

IMG_4559.JPG

Sengaja kami datang untuk sekedar mengintip koleksi mereka, ampun, terlalu banyak yang mesti dibeli. Akhirnya kami membawa pulang 3 piringan hitam yang sudah dipilih oleh Adit, salah satu pemilik Keep Keep yang tidak perlu diragukan lagi selera musiknya. Saya sangat suka membeli piringan hitam yang sama sekali belum pernah didengar. Kejutan dalam kepingan piringan hitam yang dipilih secara acak memberikan sensasi yang berbeda dibanding membeli piringan yang sudah kita incar sebelumnya.

IMG_4580.JPG

Apapun itu anggaplah teori-teori ga jelas buatan penggemar piringan hitam amatiran. Terpenting adalah kenikmatan digging yang mengasyikan di Keep Keep. Aria sepulang dari tempat itu memberikan kesannya pada saya; “Seneng banget deh, di sini tuh diggingnya enak, kerasa banget nyari-nyarinya yah.” Sayang wajahnya yang berseri-seri saat bercerita tak bisa terekam jelas di kamera, saat kami bertiga mengabadikan rupa. Mungkin pertanda untuk kami, belanja lagi, datang lagi dan foto lagi. Terimakasih Keep Keep sudah hadir di Bandung untuk turut serta memajukan ekosistem musik. Horas bah!

IMG_4579.JPG

 

Ps: Sebelum tulisan ini dibuat, saya sudah merekam percakapan sekedar wawancara dengan Adit dengan beberapa pertanyaan serius khas pewarta, sayangnya obrolan tersebut lebih banyak berisi pergosipan event dan permusikan yang membuat saya ragu yang mana mesti disiar yang mana mesti disimpan. Akhirnya tulisan ini terlahir dalam bentuk opini tanpa fakta, mungkin kalian bisa membaca tulisan tentang Keep Keep ditulis oleh blogger lain. HAHA.

 

Jakarta, 19 Desember 2016

Tur Authenticity 2016 di Berbagai Kota

Tidak banyak event musik yang hadir dengan memikirkan konsep yang matang dan selaras dengan tema. Selalu saja ada hal yang sedikit dipaksakan namun berujung pada penjualan tiket atau mencari massa sebesar-besarnya namun melupakan sisi otentik dari acara tersebut.

Keresahan inilah yang membuat Authenticity ID tergerak membuat sebuah perhelatan musik yang mengkolaborasikan musisi-musisi passionate dalam satu panggung. Tidak ada lagi sebutan musisi indie atau major. Semuanya baur. Bahkan musisi yang dikenal kiprahnya secara independen diajak berkeliling beberapa kota di event ini. Pihak penyelenggara menyayangkan, musisi independen yang musiknya bagus dan liriknya apik kadang tidak mendapatkan kesempatan manggung ke kota-kota, selalu saja berkecimpung di ibukota maupun kota besar yang penontonnya tersegmen, padahal bisa saja musik mereka dinikmati banyak orang.

Authenticity ID memilih musisi-musisi kreatif, otentik, jujur dan berkelas untuk menampilkan karya-karyanya di beberapa kota, yaitu: Bandung (6 Agustus), Palembang (13 Agustus), Makassar (20 Agustus) dan Lampung (17 September).

Tur konser Authenticity ini menghadirkan beberapa penampil yang otentik seperti: Glenn Fredly, Maliq & D’Essentials, Sore, Teza Sumendra, Dipha Barus, DJ Zabylla, DJ Odotto dan Osvaldo Nugroho.

teza sumendra.jpg

“Musik dengan aroma originalitas yang kuat serta warna dan sound yang authentic menjadi dasar pemikiran kami untuk membuat gelaran konser di beberapa kota Indonesia ini,” kata Anya, perwakilan Icon, promotor dari gelaran tur konser ini.

“Mereka yang menjadi simbol dari gerakan kekuatan warna musik yang unik, original dan simply Authenticity,” lanjutnya.

Tidak hanya menggelar tur, di media sosialnya @Authenticity_ID menggelar kuis berhadiah turntable dengan mengajak netizen untuk menyanyikan ulang lagu dari salah satu musisi. Secara langsung Authenticity ID mendukung semaraknya vinyl culture yang kian merebak.

kuis authenticity.jpg

Semoga acara-acara seperti ini menjadi lebih banyak lagi dan mewarnai ekosistem musik di Indonesia.

Erik Truffaz, Bending The New Corners

 

erik truffaz

 

Menyukai musik jazz kadangkala bukan perkara mudah bagi sebagian orang, termasuk suami saya yang terbiasa mendengarkan musik hingar bingar, entah itu indie rock, indie pop atau metal. Saat ia bertanya, bagaimana cara memulai menyukai jazz. Saya menyarankan untuk memilih instrumen apa yang enak dinikmati. Ia pun langsung yakin memilih terompet. Entah atas dasar apa, dia pun bukan penyuka ska hahaha.

Dari situ mulailah kami mencari label jazz yang bisa menjadi tumpuan belajar menyukai jazz, terpilihlah Blue Note. Peniup terompet legendaris, Lou Donaldson menjadi piringan hitam pertama yang didengar olehnya. Ternyata dia sangat suka. Dari situ mulai mencari peniup terompet lainnya. Dari era kekinian kami menemukan Erik Truffaz.

Hobi travelling kami yang mengantarkan perjumpaan dengan Erik Truffaz, di sebuah record store kecil di pinggiran Tokyo. Sebagai penyuka jazz fussion, saya langsung jatuh cinta. Apalagi saat membeli piringan hitam ini, kami sedang aktif menjadi selector di acara jazz. Pas sekali dibawakan untuk saat santai.

Ia ternyata sangat produktif, sudah 20 album ia hasilkan. Mendengarkan seluruh lagu di album ini membuat kami ingin mengkoleksi album Erik yang lainnya. Sekarang saya sedang mencari album bertajuk The Dawn.

Penasaran seperti apa musiknya? Ini saya membuat vblog pendek tentang Erik Truffaz. Selamat menyimak.

 

 

Sumber foto: www.cdandlp.com dan www.rootsisland.com

#BincangMinggu Edisi 3 Januari 2016 Bersama @RianEkkyP

Minggu kemarin tanggal 3 Januari saya berbincang dengan Rian Ekky Pradipta yang sedang gemar mengumpulkan rilisan fisik. Di #bincangminggu kali ini ia akan berbagi cerita tentang kegemarannya tersebut.

Intan: Saya bakal ngobrol dg @RianEkkyP, vokalis @dmasiv yang sedang giat mempelajari musik Indonesia dari jejak-jejak rilisannya. Hai Rian seru deh liat kamu digging musik Indonesia kesana kemari. Ceritain dong awalnya kepincut ngumpulin rilisan? #bincangminggu

Rian: Halooo. klo rilisan fisik dr SD udh koleksi kaset,dan hobi beli rilisan fisik sampai skrg,ada sebagian turun dr bokap tp bener- bener mulai gila nya sih pas udh punya penghasilan sendiri.. alhasil sekarang mencoba belajar jadi kolektor rilisan fisik.

Intan: ternyata emang doyan beli dan ngumpulin dari kecil. Ada ga rilisan Indonesia yg masih belum dapet dan pengen bgt? @RianEkkyP #bincangminggu

Rian: klo rilisan indo banyak yg blm dpt sih,skrg lg nyari bgt darapuspita yg minplus , sama ebiet GAD yg album 1.

Intan: Ada pengalaman paling kocak atau ngeselin ngga selama mengumpulkan beragam koleksi Indonesia? @RianEkkyP #bincangminggu

Rian: ya paling gtu karena tau gw yg beli.. harga kadang jd tiba2 mahal.. tp krna gw pingin y udah di beli heheheh. Tapi memang yg di pingin memang langka ..dan pasaran nya memang mahal.. tp itu seru nya saat mengkoleksi rilisan fisik..

Intan: Wahahahahaha kamu mesti punya tangan kanan ga boleh beli sendiri berarti. Ga pernah nawar yah? Hehehe

Rian: nawar sih pasti sih.. tp gak nyesel kok dpt nya mahal.. itu bs jd penambah semangat utk kerja lbh giat 😂😁

Intan: Kalau dilihat dari tabiat para kolektor rilisan fisik, mereka terlalu sayang sama koleksinya, kadang sampai dijadiin berhala. Bagaimana cara kamu untuk menghindari sikap berlebihan terhadap barang koleksian?

Rian: Kadang diliatin satu-satu aja udah seneng. Hehehe yang penting bs atur waktu saat sedang mendengarkan koleksi ,dan bersosialisasi dgn lingkungan serta keluarga.

Intan: Ada rencana buat bikin perpustakaan supaya barang koleksinya kelak bisa dinikmati banyak orang juga? @RianEkkyP #bincangminggu

Rian: sudah ..pingin suatu saat punya tempat khusus memorabilia musik indonesia..lengkap tanpa mengkotak kotak kan genre.

Intan: Dari semua rilisan fisik yang dipunya, mana yg paling disayang dan dapetnya dengan penuh pengorbanan @RianEkkyP #bincangminggu

Rian: semua di sayang, cm klo yg dpt nya bener- bener pake pengorbanan itu vinyl Badai Pasti Berlalu sama Ariesta Birawa.
Terimakasih banyak @RianEkkyP untuk sharing-sharing tentang perjalanan digging musiknya. Sampai jumpa di dunia nyata 😀 #bincangminggu

Panbers Album Pertama

Empat orang pemuda bersaudara dari keluarga Pandjaitan;

– Hans Pandjaitan, anak sulung dari 4 bersaudara, sang pemetik melodi yang penuh nilai seni

– Benny Pandjaitan, pemain organ yang juga vokalis adalah anak kedua yang paling dinamis dan berdedikasi, pengabdi dalam cita

– Doan Pandjaitan, pendiam pribadinya, berkacamata, pemegang bass

– Asido Pandjaitan, drummer yang lincah, anak bungsu yang penuh kesegaran dan gairah.

Producer: Dick Tamimi
Lagu-lagu Beatles disenangi
Rolling Stone digemari
Led Zeppelin dipujanya
Koes Plus dicintanya

Ini adalah rekamannya yang pertama, semoga membawa kesan yang indah, menggugah nurani dan rasa, tuk mencapai sukses sempurna.

Album ini menurut saya belum terlalu menggalau.

 

Noh Salleh di Substore

noh

Noh Salleh dikenal sebagai musisi yang melewati banyak proses dalam perjalanan bermusiknya. Setelah kurang lebih 8 tahun bersama band Hujan, ia mencoba keluar dari kotak nyamannya dan membuat album solo yang memikat hati. Berisikan 5 lagu dengan berkolaborasi lirik bersama Ade Paloh serta aransemen apik hasil garapan Mondo Gascaro dan Adink Permana, Noh menunjukan kepiawaiannya meramu musik yang berbeda dari yang biasa ia mainkan.

Saya mengenal Noh sejak ia melakukan tur Hujan yang pertama ke Indonesia, berlanjut komunikasi dipertemuan kedua saat Hujan membuat video klip “Mencari Konklusi” di Bandung sekitar 5 tahun yang lalu.

Noh di mata saya adalah seorang musisi yang kreatif dan berkemauan keras. Referensi musiknya yang cukup luas membuat Noh bermain musik tidak hanya disatu genre saja. Ia  seringkali mendengarkan musik-musik bagus buatan musisi Indonesia, berteman bersama mereka dan saling menginspirasi.

Hingga satu saat ia meminta Mondo Gascaro dan Adink Permana untuk menjadi tim produksi albumnya bertajuk, “Angin Kencang”.

Saat saya hendak membelinya, ia katakan kalau piringan hitamnya di pasaran sudah habis. Namun beberapa hari lalu dia dikabari oleh label rekamannya, ada sisa 15 keping. Noh pun bertanya pada saya, apakah berminat untuk menjualnya di Substore? Kebetulan ia akan ke Jakarta mengantar istrinya berbelanja sekalian vakansi. Ia menyanggupi adanya sesi tanda tangan. Saya meminta dia dengan agak memaksa, untuk nyanyi beberapa lagu di Substore. Memang dasarnya Noh baik hati. Ia menyetujui permintaan itu lalu sangat senang dengan persiapan dadakan dan apa adanya kami.

Saat memainkan nomor-nomor terbarunya, saya menemukan jiwa Noh yang flamboyan nan romantis, mungkin selama ini jiwa “manis” Noh tak cukup terlihat di karya-karya terdahulunya. Lagu-lagunya yang sekarang mendayu, masih Melayu namun tetap indah di telinga.

Ini video-video dari sisa keriaan malam itu;

#GoAHeadJakarta to Record Store Day 2015

Dengan diperkenalkannya Record Store Day pada tahun 2008, meningkatnya perhatian pada toko kaset memiliki efek positif pada pasar terhadap rilisan fisik. Dari 2006 sampai 2010, akhir tahun penjualan vinyl baru (sebagaimana ditentukan oleh organisasi industri musik seperti Industri Rekaman Amerika (RIAA) dan Nielsen Soundscan) naik dari 0,06 persen menjadi lebih dari 30 persen per tahun. Namun, pada tahun 2011, RIAA melaporkan bahwa penjualan digital musik telah melewati tanda setengah jalan untuk pertama kalinya. Dan Nielsen Soundscan (seperti yang dilaporkan dalam Billboard) melaporkan bahwa, pada akhir 2012, penjualan album vinyl hanya naik 16,8 persen.

Toko musik berfungsi pada berbagai tingkat yang berbeda. Mereka disebut “tempat ketiga” di mana berbagai macam orang dapat berinteraksi dan budaya musik dapat dilihat, didengar dan diadakan di tangan-tangan para pecinta musik. Toko musik berkembang sebagai bentuk unik berkumpulnya jemaat pecinta musik. Toko musik independen juga berfungsi sebagai ruang pamer budaya – tempat di mana tren yang diluncurkan dan di mana bentuk-bentuk lama dan baru dari musik dapat diperdebatkan, dieksplorasi dan berasimilasi. Juga, toko musik independen berfungsi sebagai magnet untuk sejumlah besar musisi lokal dan diakui secara nasional yang mencari pos-pos musik untuk unjuk kreasi.

Tanpa toko musik yang dimiliki secara independen, dunia kita akan menjadi tempat yang menyedihkan. Biarlah orang-orang ini berkembang terus. Dan mungkin generasi mendatang akan  memahami tempat yang penting dan bermakna ini sebagai tempat yang selalu menyimpan catatan budaya musik dunia kita. Vinyl Lives!

Ini adalah rangkuman besar dari buku; Vinyl Lives ~ James P. Goss (Aventine Press, 2010)

Saya mengangkat Vinyl Lives di tulisan ini karena memang benar adanya, Record Store Day merupakan hajatan para pecinta piringan hitam. Minggu ketiga di bulan April adalah saat yang ditunggu-tunggu untuk para penikmat musik analog. Rilisan baru yang hendak diburu ataupun sekedar berkumpul dan berbincang seputar rilisan-rilisan terkini menjadi tema yang menarik dibahas.

Di Indonesia sendiri, geliat piringan hitam mulai terasa. Di Jakarta ada sekitar 30 record store yang menjual piringan hitam, di Bandung, Jogjakarta, Bali dan Makassar pun sudah cukup banyak peminatnya.

Recode Store Day

Para pecinta musik pun sejak beberapa tahun silam mulai berembug untuk mengajak para record store berkumpul di satu tempat untuk bersukaria, tahun ini ada sekitar 90 record store yang akan berpartisipasi. Tidak hanya saling bertukar koleksi dan bazaar semata. Ada musisi-musisi yang akan tampil, seperti, Rumah Sakit, Mondo Gascaro, The Upstairs, WSATCC dan masih banyak lagi.

Acara yang saya tunggu sih talkshow yang disiapkan oleh Sampoerna A:

  • Irama Nusantara oleh David Tarigan

Tema: Sejarah dan fenomena Vinyl di Indonesia

Jam: 16.00 – 17.00

  • OomLeo & Felix Dass

Tema: Melestarikan arsip album-album lama/ live dalam bentuk rilisan ulang.

Jam: 16.00 – 17.00

So, ajak teman-temanmu untuk berkunjung ke Record Store Day Indonesia tahun ini di Bara Futsal Building, Ground Floor, Ex Golden Truly, Melawai, Jakarta Selatan, hari Sabtu dan Minggu besok.

Berkenalan dengan Pemilik Bali Gong

Selintas ia tidak bisa menyembunyikan logat Sunda Bandungnya yang kental dan rupanya yang ramah menyapa kami. Ia memperkenalkan dirinya dengan nama Pak Dede dan memang benar ia perantauan Bandung yang sudah cukup lama tinggal di Bali.

bali gong

Setelah menanyakan selera musik kami, pak Dede pun memperlihatkan koleksinya yang sangat menarik, aneka rock jadul sampai masa kini, baik itu art rock, glam rock, progressive rock dan slow rock. Kami sangat senang ketika perburuan ini tidak terlalu mengocek dompet. Pervinyl di box depan toko dari 100 ribu sampai dengan 250 ribu. Lain lagi dengan box tersembunyi di belakang tempat banyak harta-harta bersemayam, harga cukup beragam dan perlu merogoh kocek lebih dalam. Untungnya kami sudah cukup puas dengan hasil perburuan di awal.

vinyl

Pak Dede sendiri menjadi seseorang yang cukup berperan mempengaruhi skena musik anak muda di Bali. Berbagai musik dari berbagai era ia copy ke bentuk CD maupun DVD show, barang-barang langka yang aksesnya terbatas.

Dengan riang ia menceritakan kecintaannya terhadap musik rock dan rencana terdekat dia menonton idolanya, Jethro Tull. Tidak lupa kami mengajaknya untuk berkunjung ke Substore saat ke Jakarta. Banyak cerita-cerita menarik lainnya yang Pak Dede utarakan saat kami bertandang ke Bali Gong. Menyenangkan sekali berkunjung ke toko musik serba ada ini. Tempatnya pun mudah ditemui, sesederhana mengetik “Bali Gong”, aplikasi peta kesayangan akan mengantarkanmu kemari.

pak Dede Bali Gong