The Bike Song

Pernahkah kamu mendengarkan sebuah lagu berjudul The Bike Song dari Mark Ronson? Coba simak sebentar dan apa yang kamu bayangkan?

Bersepeda membutuhkan niat yang bulat untuk meruntuhkan kemalasan-kemalasan yang senantiasa membisikan ajakan hal yang lebih santai dan mengasyikan.

Misal; “Ya enakan nonton TV di rumahlah ga kena panas.” Atau “Hm lebih baik browsing tiket murah di kamar berAC siapa tau ada yang nyangkut.”

Kalau saja kita berhasil mengusir kemalasan itu, bersepeda dapat menjadi wahana mendapatkan inspirasi dan banyak wawasan baru.

Beberapa bulan ke belakang saya mulai membiasakan diri mengendarai sepeda. Dan apa yang saya dapatkan? Saya bisa melihat lebih nyata kebahagiaan-kebahagiaan orang yang ditemui di jalan. Tidak hanya menyusuri jalan besar, saya mencoba masuk gang-gang setapak yang jarang dilalui.

Dari situ saya bisa melihat langsung pada mata abang Bakso yang sedang tersenyum, saya menyerap kebahagiaan yang dia punya, entah karena apa, mungkin dagangannya sangat laris hari ini.

Tak sengaja saya bertemu dengan seorang bapak yang membawa perlengkapan audio lengkap menempel di sepedanya, saya mengikutinya dan mendengar beliau menyanyi kecil meniru lagu yang sedang diputarnya. Kocak memang. Ia pun menyadari keberadaan saya dan kami mulai bertukar senyum. Ada perasaan hangat yang hinggap di hati.

Namun tidak hanya kebahagiaan yang saya temui, ada nada sedih pada nafas seorang kakek yang rumahnya sebelah kuburan, saya melihat ia sedang mendengarkan ceramah upacara penguburan seseorang. Beliau tampak sedang menguping, ada terlihat raut khawatir. Mungkin ia pun sedang mempersiapkan diri, bilamana tiba saatnya ceramah itu ditujukan sebagai ucapan perpisahan untuknya.

Bersepeda…

I run around town
Around around and round
The pedal to the metal
The pedal to whatever

Saya kadang hanya mengikuti kemana pedal mengarah, kadang ia salah arah lalu mencari arah yang benar. Kadangpun ia lelah hingga perjalanan terasa lebih lambat.

Satu hal yang bisa kita rasakan saat bersepeda; momen kini. Terkadang kita sibuk mengingat masa lalu dan merencanakan masa depan namun lupa menikmati hal yang kini. Momen-momen tersebut seolah merefleksikan waktu yang seakan berhenti, kita tak lagi berpikir tentang kemarin dan esok.

Bukankah manusia terlampau lelah untuk berpikir dan lupa bagaimana caranya hening, menikmati yang ada di depannya?

Sempat saya membaca sebuah kutipan indah dari bli Wayan Mustika;

“Heninglah sejenak. Bebaskan pikiranmu dari tugas-tugasnya untuk memahami kehidupan yang tak kuasa dipahaminya. Biarkan ia istirahat dan hanya menjadi pendengar bahasa hatimu yang netral. Dengarkan pesan-pesannya yang bijak dan bebas dari penilaian. Karena saat itulah Aku, Sang Jiwa dalam dirimu, sedang bicara padamu sebagai hati nurani.”

 

Bersepedalah, kamu akan menemukan keramaian yang penyendiri, hangat dan kamu bisa masuk dalam hening yang diciptakan, di situlah kamu akan merasa nikmatnya mensyukuri apa yang dimiliki…

 

 

 

 

Advertisements

Keep Keep Musik, Happy Tummy Happy Digging Experienced..

Bandung konon didaulat menjadi kotanya orang kreatif. Tentu saja kreativitas dan musik adalah hal yang tak bisa dipisahkan. Hampir tidak ada orang kreatif yang tidak suka musik, begitupun sebaliknya jarang ditemukan orang suka musik yang tidak kreatif.

Kebanyakan orang kreatif penyuka musik adalah manusia-manusia pemberani. Berani berdiri pada keyakinannya untuk menjalani hidup ibarat hobi, memilih apa yang disukai lalu dijalani dengan segenap hati.

Itulah semangat yang saya lihat begitu kuat pada record store apik di pertigaan Ciumbuleuit, tepatnya jalan Kiputih nomor 1. Tampilan depannya yang tertata rapi, terjaga sejak beberapa dekade silam. Rumah tua idaman yang memiliki banyak hal menarik; musik terbaik, makanan minuman enak dan suasana khas Bandung yang sangat sejuk.

Jangan pertanyakan lagi tentang waktu kalau saja kamu bisa memberikan kesempatan untuk jemari mencari rilisan fisik yang disukai. Siap-siap larut oleh ratusan menit yang akan terbuang tidak sia-sia. Keep Keep Musik adalah tempat jebakan yang menyenangkan, saya dengan sukarela masuk ke dalam ruang nyaman yang membuat betah berlama-lama.

IMG_4559.JPG

Sengaja kami datang untuk sekedar mengintip koleksi mereka, ampun, terlalu banyak yang mesti dibeli. Akhirnya kami membawa pulang 3 piringan hitam yang sudah dipilih oleh Adit, salah satu pemilik Keep Keep yang tidak perlu diragukan lagi selera musiknya. Saya sangat suka membeli piringan hitam yang sama sekali belum pernah didengar. Kejutan dalam kepingan piringan hitam yang dipilih secara acak memberikan sensasi yang berbeda dibanding membeli piringan yang sudah kita incar sebelumnya.

IMG_4580.JPG

Apapun itu anggaplah teori-teori ga jelas buatan penggemar piringan hitam amatiran. Terpenting adalah kenikmatan digging yang mengasyikan di Keep Keep. Aria sepulang dari tempat itu memberikan kesannya pada saya; “Seneng banget deh, di sini tuh diggingnya enak, kerasa banget nyari-nyarinya yah.” Sayang wajahnya yang berseri-seri saat bercerita tak bisa terekam jelas di kamera, saat kami bertiga mengabadikan rupa. Mungkin pertanda untuk kami, belanja lagi, datang lagi dan foto lagi. Terimakasih Keep Keep sudah hadir di Bandung untuk turut serta memajukan ekosistem musik. Horas bah!

IMG_4579.JPG

 

Ps: Sebelum tulisan ini dibuat, saya sudah merekam percakapan sekedar wawancara dengan Adit dengan beberapa pertanyaan serius khas pewarta, sayangnya obrolan tersebut lebih banyak berisi pergosipan event dan permusikan yang membuat saya ragu yang mana mesti disiar yang mana mesti disimpan. Akhirnya tulisan ini terlahir dalam bentuk opini tanpa fakta, mungkin kalian bisa membaca tulisan tentang Keep Keep ditulis oleh blogger lain. HAHA.

 

Jakarta, 19 Desember 2016

Sinopsis Jendela Raksasa

 

Selamat malam. Ini adalah drama musikal anak dan remaja bertajuk “Raksasa” di TIM JKT 22-23 Desember.

Penggarapan musik dan artistiknya yang sangat serius ini dibuat oleh Jendela Ide. Menyenangkan bisa membantu mereka untuk menyebarkan informasi ini.

Berikut sinopsis ceritanya:

Pada suatu malam di puncak gunung, ada sekelompok anak dan gurunya yang sedang berkemah.  Sebelum mereka tidur, sang guru bercerita tentang seorang gembala yang berbohong kepada teman-temannya bahwa ada raksasa telah memakan semua domba-dombanya. Tapi pada suatu hari, di saat raksasa benar-benar datang dan mengambil domba-dombanya, teman-temannya sudah tidak percaya lagi pada si Gembala sehingga tidak ada yang menolongnya.
Tanpa disangka, ketika anak-anak tersebut tertidur si gembala datang kedalam mimpi mereka.

Dengan tulus ia meminta pertolongan untuk menemukan domba-dombanya. Anak-anak yang semula ragu akhirnya mau membantu si Gembala setelah dia berjanji untuk tidak berbohong lagi.

Mereka pun memulai perjalanan dengan melewati hutan belantara untuk mencari Akar Putih dari Pohon Harapan, karena hanya Akar Putih lah satu-satunya senjata yang bisa melawan Raksasa dan makhluk-makhluk jahat lain yang mungkin akan mereka temui di perjalanan.

Sepanjang perjalanan, anak-anak tersebut belajar dan bertemu dengan banyak makhluk ajaib, salah satunya adalah Naga Air yang membantu mereka menemukan Akar Putih. Hingga akhirnya mereka tahu ada hal yang menyebabkan raksasa berlaku kejam, dan bersama-sama mereka berusaha untuk memecahkan masalah tersebut.

 

Dedikasi Ibu Marintan Sirait pada Jendela Raksasa

Dosen favorit saya semasa kuliah ditakdirkan bertemu lagi. Ia dan Jendela Ide Bandung memang sangat berdedikasi untuk membangun skena performing art dan pertunjukan seni sejak dulu.

Kini ia sedang menjadi sutradara dan tim artistik drama musikal anak/remaja bertajuk Jendela Raksasa. Berbagi cerita bagaimana sebuah ekosistem pertunjukan hendaknya dibangun dari hulu ke hilir dengan mengoptimalkan kreativitas yang tidak hanya sebagai konsep yang mendewakan seni semata. Mempopulerkan seni lewat anak/remaja menjadi aset penting supaya mereka bisa selalu waras di tengah pergulatan dunia yang kian panas.

Ibu Marintan Sirait dengan ketenangan sungai tanpa riak, membuat saya belajar arti pengabdian pada masyarakat. Bagaimana seni mesti menyentuh segala sendi kehidupan. Dan anak/remaja adalah salah satu unsur penting yang disertakan.

Jendela Raksasa sebelum pementasannya melakukan workshop bunyi ke beberapa sekolah. Menggunakan metode seperti folley artist, mengumpul dan mencipta suara dengan keterlibatan anak sekolah untuk digunakan sebagai sound effect di drama musikal tersebut. Supercool yah. Orang-orang hebat seperti bu Marintan banyak sekali di Indonesia ini, bolehlah sesekali kita mengekspos orang-orang inspiratif macam beliau ketimbang memberikan panggung pada boneka-boneka politik penuh kepentingan..

Salam seni..

We The Fest 2016 Hari Kedua

We The Fest salah satu pergelaran musik yang ditunggu muda mudi arus pinggir berhasil membuat sebuah kolaborasi apik antara ekosistem kreatif, musik serta ekonomi. Di pergelaran yang ketiga ini ada sedikit perbedaan, pertama kalinya diselenggarakan selama 2 hari dan hujan deras mengguyur Jakarta tanpa henti. Namun kendala alam tidak menghentikan antusiasme pengunjung untuk basah-basahan menikmati sajian musik dari para idola.

Ornamen warna-warni, lampu di sana sini serta tenant yang berlomba-lomba menghias boothnya menjadikan wajah We The Fest menjadi festival musik yang ceria. Beberapa saat saya merasa sedang berada di sisi lain Disneyland. Belum lagi jarak panggung yang tidak terlalu dekat serta pilihan pengisi acara yang kualitasnya merata membuat pemandangan muda mudi berlarian di jeda pergantian musisi, tentunya dengan jas hujan lucu beraneka warna.

Senangnya bisa menyempatkan diri untuk menonton Temper Trap dan bertemu dengan salah satu record store bus dari Makassar.

wtf 1.jpg

Pengalaman pertama yang berkesan bagi saya dan Aria. Mungkin kami akan menjadi salah satu muda mudi arus pinggir yang menantikan dengan semangat siapa musisi yang akan datang tahun depan. Terimakasih Hangga.

Vblog WTF day 2;

Tur Authenticity 2016 di Berbagai Kota

Tidak banyak event musik yang hadir dengan memikirkan konsep yang matang dan selaras dengan tema. Selalu saja ada hal yang sedikit dipaksakan namun berujung pada penjualan tiket atau mencari massa sebesar-besarnya namun melupakan sisi otentik dari acara tersebut.

Keresahan inilah yang membuat Authenticity ID tergerak membuat sebuah perhelatan musik yang mengkolaborasikan musisi-musisi passionate dalam satu panggung. Tidak ada lagi sebutan musisi indie atau major. Semuanya baur. Bahkan musisi yang dikenal kiprahnya secara independen diajak berkeliling beberapa kota di event ini. Pihak penyelenggara menyayangkan, musisi independen yang musiknya bagus dan liriknya apik kadang tidak mendapatkan kesempatan manggung ke kota-kota, selalu saja berkecimpung di ibukota maupun kota besar yang penontonnya tersegmen, padahal bisa saja musik mereka dinikmati banyak orang.

Authenticity ID memilih musisi-musisi kreatif, otentik, jujur dan berkelas untuk menampilkan karya-karyanya di beberapa kota, yaitu: Bandung (6 Agustus), Palembang (13 Agustus), Makassar (20 Agustus) dan Lampung (17 September).

Tur konser Authenticity ini menghadirkan beberapa penampil yang otentik seperti: Glenn Fredly, Maliq & D’Essentials, Sore, Teza Sumendra, Dipha Barus, DJ Zabylla, DJ Odotto dan Osvaldo Nugroho.

teza sumendra.jpg

“Musik dengan aroma originalitas yang kuat serta warna dan sound yang authentic menjadi dasar pemikiran kami untuk membuat gelaran konser di beberapa kota Indonesia ini,” kata Anya, perwakilan Icon, promotor dari gelaran tur konser ini.

“Mereka yang menjadi simbol dari gerakan kekuatan warna musik yang unik, original dan simply Authenticity,” lanjutnya.

Tidak hanya menggelar tur, di media sosialnya @Authenticity_ID menggelar kuis berhadiah turntable dengan mengajak netizen untuk menyanyikan ulang lagu dari salah satu musisi. Secara langsung Authenticity ID mendukung semaraknya vinyl culture yang kian merebak.

kuis authenticity.jpg

Semoga acara-acara seperti ini menjadi lebih banyak lagi dan mewarnai ekosistem musik di Indonesia.

Erik Truffaz, Bending The New Corners

 

erik truffaz

 

Menyukai musik jazz kadangkala bukan perkara mudah bagi sebagian orang, termasuk suami saya yang terbiasa mendengarkan musik hingar bingar, entah itu indie rock, indie pop atau metal. Saat ia bertanya, bagaimana cara memulai menyukai jazz. Saya menyarankan untuk memilih instrumen apa yang enak dinikmati. Ia pun langsung yakin memilih terompet. Entah atas dasar apa, dia pun bukan penyuka ska hahaha.

Dari situ mulailah kami mencari label jazz yang bisa menjadi tumpuan belajar menyukai jazz, terpilihlah Blue Note. Peniup terompet legendaris, Lou Donaldson menjadi piringan hitam pertama yang didengar olehnya. Ternyata dia sangat suka. Dari situ mulai mencari peniup terompet lainnya. Dari era kekinian kami menemukan Erik Truffaz.

Hobi travelling kami yang mengantarkan perjumpaan dengan Erik Truffaz, di sebuah record store kecil di pinggiran Tokyo. Sebagai penyuka jazz fussion, saya langsung jatuh cinta. Apalagi saat membeli piringan hitam ini, kami sedang aktif menjadi selector di acara jazz. Pas sekali dibawakan untuk saat santai.

Ia ternyata sangat produktif, sudah 20 album ia hasilkan. Mendengarkan seluruh lagu di album ini membuat kami ingin mengkoleksi album Erik yang lainnya. Sekarang saya sedang mencari album bertajuk The Dawn.

Penasaran seperti apa musiknya? Ini saya membuat vblog pendek tentang Erik Truffaz. Selamat menyimak.

 

 

Sumber foto: www.cdandlp.com dan www.rootsisland.com

Musik dan Pasar yang Bisa Diciptakan

Ini tentang sebuah diskusi yang sudah cukup lama saya datangi, sekitar bulan Maret silam, namun baru sempat ditulis di blog karena perlu menyatukan tweet-tweet yang ada di akun Koalisi Seni dengan tweet di Alinea TV. Konten dari diskusinya sangat penting untuk ekosistem musik di Indonesia.

Cholil membuka diskusi dengan topik “Musik dan Pasar yang Bisa Diciptakan”.

Ia berpendapat stigma tentang band yang menyuarakan isu sosial dan kerap bertolak dengan label besar sebenarnya kurang tepat. Karena, band seperti Slank dan Iwan Fals, yang punya sikap politis dalam musiknya, justru menjadi mainstream dalam musik Indonesia. Sekarang ERK sudah tidak punya hambatan seperti dulu ketika bicara “pasar bisa diciptakan”. Mungkin band-band yang baru menghadapi hambatan seperti ERK dulu: musik mainstream dan label.

Awalnya ERK juga tidak terlibat banyak. Soal hak cipta aja, ERK memilih creative commons karena tidak mau komersil. Banyak musisi yang belum terlalu peduli dengan revenue system, entah dalam bentuk direct-income sampai publishing. Tidak semua musisi berekspektasi benar-benar hidup untuk bermusik. Di luar bermusik, mereka mencari penghasilan dengan bekerja seperti biasa. Strategi untuk mendistribusikan musiknya & sampai ke publik seluas mungkin menjadi kebutuhan utama, belum tentang finansial. Tujuannya hanya untuk menarik massa.

Tentang era internet:

Coki:

Sekarang ada peluang yang ada dengan kemajuan internet. Label juga baru belajar. Ini perlu dikuasai musisi. Internet itu sangat membantu. Kelas menengah itu cukup relate dengan bandnya. Jadi setelah mendengar, mereka ikut meramaikan sendiri. Internet menciptakan pola baru: free sharing. Tapi justru,daya beli konser & merchandise meningkat. Inilah ‘konsumsi baru’.

Cholil:
Internet ngaruh ke perubahan perilaku pembeli musik. Internet kabar baik buat nyebar info tp kabar buruk buat distribusi. Internet itu semangat jamannya gratis. Ya diterima aja. Musisi harus banyak manggung. Mereka gak beli CD tp mau beli tiket. Penggemar musik masih bersedia mengeluarkan ratusan ribu tapi gak lagi beli CD. Konser ERK kmrn sold out dalam 2 hari.
Indie Label atau Major Label?

Cholil:

Sekarang orang bertanya apa untungnya masuk major label. Kalau gak untung ya masuk jalur indie aja lebih bebas. Perizinan itu menjadi momok musisi. Slank harus lanjutkan Judicial Review agar izin bukan di polisi tapi di Budpar. Dengan makin mudahnya musisi bikin konser, ekosistemnya jadi lebih baik buat pasar musik. Masyarakat sekarang sudah pintar pilih mana yang mau dia dengar dan gak. Pemerintah gak perlu bilang “jangan dengar lagu cengeng”. Biar masyarakat yg menentukan sendiri musik apa yg ingin mereka dengar. Pemerintah memfasilitasi infrastrukturnya.

Ada kebijakan baru dari Pemda Jakarta dalam mengakses gedung pertunjukan seperti Taman Ismail Marzuki & Gedung Kesenian Jkt. Harga sewa gedung pertunjukan lebih terjangkau. Band-band  mulai memanfaatkan fasilitas tsb; seperti WSTACC, Ari Reda, dan ERK. Hal ini menularkan semangat kpd musisi lain tentang referensi venue musik. Kebiasaaan menonton di gedung pertunjukan juga dibangun.

Di ERK, kami berstrategi dengan mencari rekanan kerja yang juga mendukung visi musik kami. Dari label, media, dll. ERK tidak merasakan perubahan konsumsi musik dari fisik ke digital. Kami masuk saat masa transisi itu & kebetulan bisa mencermatinya. Hal ini berbeda dgn band-band sebelumnya yang berada di pola konsumsi fisik: kaset dan CD. Mereka merasakan kerugian pasar itu.

Coki:

Ini zamannya musisi milih jalur yg sesuai dengan visinya. Sekarang bukan lagi tentang indie-major, tapi lebih kepada: saya punya visi, maka lebih baik berjejaring di akses yg mana?. Kalau mau masuk TV ya ke major label. Kalau yang suka manggung ya indie label. Era indie seksi dan major jahat itu udah selesai tahun 90-an. Musik bagus ada di mana-mana. Indie adalah spirit. Label dari dulu pun memproduksi berbagai varian band ‘bagus-jelek’, jadi bukan gatekeeper tunggal. Label melihat kepentingan profit, bukan berfungsi sebagai taste maker. Fungsi tersebut lebih dilakukan oleh radio.

Ada pertanyaan dari penggerak musik di Palu mengenai musisi lokal yang selalu ingin mendengar/bercermin pada musisi di luar daerahnya (musisi ibukota)

Ini dihadapi semua musisi. Di Jakarta sama band-band luar. Kita harus punya jalan keluar. Mungkin karena gak ada ikatan emosional. Mulai dr sesama musisi nonton konser temannya. Diperluas, terbangun emosional sehingga stempel band ibukota itu bagus surut.

Coki menanggapi bahwa kini, situasinya adalah hambatan berada di distribusi. Musik yang bagus di Indonesia tidak masuk ke media TV. Musik Indonesia sudah baik tapi gak ada distribusi yang baik. Harusnya TV publik itu memberi ruang buat musisi Indonesia. Masing-masing sibuk sendiri. Orang TV hanya urus TV. Musisi hanya urus musik. Harusnya sekarang kolaborasi. Kelebihan lo di lokal itu lo lebih tahu apa yg masyarakat lokal  mau. Itu yg perlu dibangun: kelokalan dan jaga kualitas. Silam Pukau dan Semak Belukar pun dikenal karena unsur kelokalannya.

Setiap pelaku dalam ekosistem musik kini bermain secara sektoral, belum terpusat di dalam domain distribusi. Saya datang ke konser musik besar-kecil,yg saya lihat audiensnya masih sama. Ini bukti bhw pencapaian audiens musik stagnan. Musisi stdknya harus mempunyai pengetahuan tentang framework management dalam bisnis musik. Fungsinya untuk strategi penjualan. Musisi tetap harus punya edukasi dasar tentang distribusi dan konsumsi musik, sehingga mereka punya posisi tawar lebih baik. Dalam sebuah studi di Inggris, menonton konser bisa didefinisikan sbg bentuk konsumsi. Jika kita melihat peta revenue ini, investasi ke arah konser berikut dengan gedung pertunjukannya dapat dilakukan.

Apakah musik perlu sebuah kebijakan?

Sangat baik kalau musisi dan semua stakeholder di dunia musik ikut mendorong perubahan kebijakan. Musik itu bisa untuk soft power dan ekonomi. Pemerintah pahami dulu potensinya itu saja dengan baik.

 

Percakapan di dalam diskusi ini bisa disaksikan di kanal #KesenianIndonesia kerjasama Koalisi Seni Indonesia dan AlineaTV di alineatv.com/kanal/kesenianindonesia

 

Edelweis On Papandayan

When I first knew Tora and Wisha will go to the mountain, I was tempted to join and invite Aria participate. Although I do know mountain climbing is not something fun instantly. Need struggles and processes. My experience several times to walk away, I always cry in the middle of the road. Waerebo I was not able to cry because I was busy chatting with a local guide. But in Gili Lawa, Badui Dalam and forests in Aru, Aria had to persuade me to wait with the lure of destinations soon visible. Yes, I walked a couple of times with a duration of time long enough.in the dark. 8 hours approximately. So when I wanted to go to Papandayan feel brave enough to take the risk of a hike for 3 hours.

Funnily enough to H minus one ahead of hiking time, we have not had time to pack and get ready. Happens in the day it happened complicated. We intend to bring portable turntable to the top of the mountain, but the battery could not be bought. Was willing to make vblog about traveling while you hear music in the wild, and all of plans are failed

IMG_0075.JPG

Papandayan known as the mountain for beginner climbers, the track is not too hard, the forest is still nice to enjoy and have a wide field Edelweiss.

We started journey around 2 am and arrived at 5 am on Garut. After going to the market and rest a while, at 9 am we started to go hiking. On the market I had stoned who was thrown by a madman that looks like a zombie. Absurd.

IMG_9866.JPG

Approximately 3.5-hour hike up and down and past the limestone plateau that smelled of sulfur, finally arrived at Pondok Selada, our camping spot.

Because pitched tents require special skills, I could only watch while eating snack and warm mug beans in the kiosk. Yes, do not worry hungry stomach, many kiosk up there. Pssst.. for you are not confident of a hike but still want to go, there are motorcycle taxis that can deliver up to the tent area.HAHA!

IMG_9939.JPG

Alex (@amrazing), is one of the people who made us want to go to Papandayan, see the edelweiss and shooting stars. At night, the preparation is ready to take a star. We are looking for the right moment while waiting for dinner. Suddenly, i heard the sound of crutches crutches krusuk..gedubruuuk .. .. tent we entered into a boar and he could not get out of the tent. Confused and then tore the inside of the tent with fangs, once the tent was collapsed. Event 1 minute was enough to amaze me, boars destroying tents in a short time. I still did not believe that he knew that he was looking for was wheat biscuits that are already open. Whether he likes or a very sharp nose that can smell a biscuit from a distance. Between upset, wonder and laughter, we started cleaning up to move the tent. Once completed through all the drama boar, stars not seen covered with clouds. Slightly disappointed but still fortunately it did not rain.

We decided to go to bed early in to see the sunrise, again when you wake up and go to the crater, the sun was not visible due to heavy clouds. Im not disappointment because traveling is not allowed expects, I cheerfully wanted to go out to find edelweiss . Saw the photos on the travel blog and tempted to run and greet the beautiful flowers.

That plan went out to the field edelweis not very smoothly, was a stray one hour past the endless steep hill. Finally we decided to split up the group and find their own way and be successful. Previously passed road is hard enough and quite difficult to pass, fortunately, we can find another way.

IMG_0034 (1).JPG

This the edelweiss field that I loved. i wanted a longer stay here but I still nervous if meet again boar. HAHA.

I make a collection of songs that is good to hear while enjoying the edelweiss meadow, enjoy the mixtape.

IMG_0026.JPG

 

sekedar bicara musik

%d bloggers like this: